Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

02 August 2009

Menegaskan Kembali Hak dan Perlindungan untuk Anak

Mari Kita lihat beberapa catatan pemberitaan terakhir, kabar memilukan yang mengusik nurani. Seorang Bapak di Madiun yang sengaja membiarkan kaki anaknya putus terlindas kereta api di rel dan penikahan seorang gadis belia --kelas 1 SMP-- dengan seorang pengusaha kaya raya di Semarang. Kedua kabar berita ini bisa menjadi suatu cerminan keadaan anak-anak di negeri ini, anak-anak yang tidak terlindungi dan tidak terpenuhi hak-haknya.

Perlu Kita sadari sejak awal bahwa anak sesungguhnya adalah amanah dan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Ia merupakan tunas, potensi, dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa. Oleh karena itu, anak memiliki peran strategis dan mempunyai ciri serta sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara dimasa depan. Dengan demikian, agar mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka setiap anak perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal, baik secara fisik, mental maupun sosial.

Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Ini berarti bahwa 80 juta penduduk Indonesia adalah anak-anak. Setiap tahun, lahir 4-5 juta anak di Indonesia, jumlah yang sama dengan total penduduk negara tetangga, Singapura. Ini merupakan aset Bangsa bila Ia terus dipelihara dan dikembangkan, atau sebaliknya akan menjadi sumber permasalahan dan petaka bila hak-haknya tidak dipenuhi dan dilindungi.

Hak dan Perlindungan Anak

Hak dan perlindungan anak merupakan isu sentral setiap kali memperingati Hati Anak Nasional. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara. Perlindungan anak sendiri ialah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.

Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya. Ia juga berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya. Dengan demikian, merupakan kewajiban orang tua, masyarakat dan negara untuk membimbing anak dalam mengembangkan dan mengoptimalkan segenap potensi yang ada pada dirinya, sehingga seorang anak memiliki cukup pemahaman dan kemampuan untuk menentukan dan mengerjakan segala sesuatu yang baik bagi dirinya atau menjauhi segala sesuatu yang buruk bagi dirinya. Setiap anak harus mendapatkan perlindungan untuk dapat beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Perlindungan anak dalam memeluk agamanya meliputi aspek pembinaan, pembimbingan, dan pengamalan ajaran agama.

Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial. Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak, agar setiap anak memperoleh derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan. Selain itu, negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua pun wajib melindungi anak dari perbuatan pengambilan organ tubuh anak dan/atau jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak; jual beli organ dan/atau jaringan tubuh anak; dan penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek penelitian tanpa seizin orang tua dan tidak mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak.

Setiap anak juga berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadi dan tingkat kecerdasan, sesuai dengan minat dan bakatnya. Pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal sembilan tahun untuk semua anak Indonesia. Anak di dalam dan di lingkungan sekolah pun wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya, baik di dalam sekolah yang bersangkutan maupun di dalam lembaga pendidikan lainnya.

Pemerintah memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan anak terlantar, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga. Pemerintah dalam menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan wajib mengupayakan dan membantu anak, agar anak dapat berpartisipasi; bebas menyatakan pendapat dan berpikir sesuai dengan hati nurani dan agamanya; bebas menerima informasi lisan atau tertulis sesuai dengan tahapan usia dan perkembangan anak; bebas berserikat dan berkumpul; bebas beristirahat, bermain, berekreasi, berkreasi, dan berkarya seni budaya; dan memperoleh sarana bermain yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan.

Pemerintah dan lembaga negara lainnya pun masih berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.

Upaya Pemerintah, Masyarakat dan Orangtua

Hak dan perlindungan anak dapat terpenuhi hanya jika terdapat kerjasama yang intensif antara pemerintah, masyarakat dan orang tua. Dalam hal ini Pemerintah telah membentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI merupakan lembaga independen yang kedudukannya setingkat dengan Komisi Negara yang dibentuk berdasarkan amanat Keppres 77/2003 dan pasal 74 UU No. 23 Tahun 2002. Tugas KPAI ialah melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan dan pemantauan, evaluasi serta pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak, memberikan laporan, saran, masukan serta pertimbangan kepada Presiden.

Peran masyarakat dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak, salah satunya telah dilakukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Komnas PA merupakan lembaga independen di bidang pemenuhan dan perlindungan hak anak. Komnas PA lahir melalui Forum Nasional Perlindungan Anak yang difasilitasi oleh Depsos RI – UNICEF dan dihadiri oleh utusan dari 27 Propinsi di Indonesia. Komnas PA merupakan salah satu lembaga di Indonesia yang tercatat di PBB sebagai organisasi independen di Bidang Pemenuhan dan Perlindungan Hak Anak di Indonesia. Dalam praktik kesehariannya, tugas yang diemban oleh Komnas PA dapat dikatakan sama dengan tugas KPAI, yakni melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi, dan pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.

Akhirnya, yang paling penting ialah orangtua pun harus ikut berperan aktif dalam memenuhi hak dan memberi perlindungan kepada anaknya. Kesalahan yang teramat fatal bila ada orangtua berpikir bahwa mendidik anak hanya merupakan tanggungjawab guru di sekolah saja. Kewajiban untuk mendidik anak tidak boleh dilepaskan dari tanggungjawab mereka. Dengan demikian, ini berimplikasi bahwa orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak; menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. Ini berarti bahwa setiap orang tua harus memiliki parenting skill. Akan tetapi, masalah besar selanjutnya ialah apakah orangtua di Indonesia telah memiliki parenting skill yang mumpuni? Sepertinya keadaan ini masih jauh dari harapan, tentunya bila Kita mendengar kembali kabar berita seperti yang telah disampaikan pada bagian awal tulisan ini. Semoga hal tersebut tidak akan terjadi lagi, apabila Kita --sebagai orangtua-- mau kembali belajar dan mengasah diri untuk berperan sebagai “orang tua.”

23 February 2009

Teror di Jalan Raya

Kejadian ini berlangsung seminggu yang lalu, ketika Saya melewati Jl. Magelang, tepatnya di depan Makam Wahidin Sudirohusodo. Seorang pemuda pengendara sepeda motor berusaha menyalip dari sisi kiri seorang bapak pengendara sepeda ontel. Merasa ruang jalan yang tersedia di sebelah kiri pengendara sepeda ontel terlalu sempit, pengendara sepeda motor tiba-tiba membelokkan stir ke kanan. Malangnya, kondisi jalan saat itu licin setelah diguyur hujan dan kecepatan motor yang dikendarai pemuda tersebut cukup kencang. Tak pelak lagi, pengendara sepeda motor menyenggol ban belakang sepeda ontel sehingga pengendaranya jatuh terjerembab. Pemuda pengendara sepeda motor itu sendiri kemudian tidak mampu mengendalikan kendaraannya, sehingga terpelanting ke kiri lalu masuk ke dalam selokan yang cukup dalam.

Di akhir Bulan Syawal yang lalu, Saya melewati jalan yang cukup sepi di utara Kampus Universitas Islam Indonesia. Hujan turun rintik-rintik dan setiap orang terlihat seperti kesetanan memacu kendaraan secepatnya untuk menghindari basahnya air hujan. Dari arah belakang Saya, terdengar suara sepeda motor meraung keras. Dari kaca spion terlihat pemuda pengendara sepeda motor yang berboncengan, berjalan zig zag. Tidak lama kemudian terasa benturan keras di bagian belakang sepeda motor Saya. Saya pun kemudian tidak mampu mempertahankan keseimbangan dan akhirnya jatuh di aspal yang kasar dan keras. Darah mengucur dari kaki Saya, sehingga memaksa tertatih-tatih kesakitan untuk kembali berdiri. Ketika akhirnya mampu berdiri, Saya baru sadar bahwa pengendara sepeda motor yang menabrak saya telah menghilang, meninggalkan aroma dan botol minuman keras yang pecah berserakan di jalan.

Seperti inikah gambaran etika pengendara sepeda motor di negeri ini? Sudah hilangkah sopan santun berlalu lintas?

Sepertinya memang terbukti nyata angka yang menyebutkan bahwa 90 persen kecelakaan disebabkan perilaku pengemudi. Memang benar, bila ada yang mengatakan bahwa kasus kecelakaan lalu lintas tak semata-mata disebabkan kelalaian pengguna jalan. Infrastruktur jalan yang sulit, seperti jalan yang berkelok-kelok, jalan yang terlalu lebar bagi pengguna kendaraan roda dua atau jarangnya "U Turn", juga menjadi faktor penyumbang penyebab terjadinya kecelakaan. Akan tetapi, perilaku mengemudi masyarakat yang tidak tertib, tidak adanya sopan santun berkendara dan rendahnya kesabaran pengguna jalan adalah penyumbang utama penyebab kecelakaan lalu lintas. Saat ini Kita tidak cukup berhati-hari untuk diri sendiri, tapi juga perlu berhati-hati dengan kelakuan pengendara lain.

Setiap hari, kecelakaan lalu lintas membunuh lebih dari 3.000 orang, termasuk 500 anak-anak. Setiap tahun, 1,3 juta orang terbunuh dan sedikitnya 50 juta orang terluka. Krisis ini diperkirakan akan terus berlanjut dan meningkat seiring dengan peningkatan kendaraan bermotor, terutama di negara-negara berkembang. Di negara berkembang, jumlah orang yang tewas di jalan diprediksi meningkat setidaknya 80% dalam 20 tahun yang akan datang.

Dalam tiga tahun terakhir, peristiwa kecelakaan lalu lintas di DI Yogyakarta meningkat tajam. Jumlah korban kecelakaan pun setiap tahun kian bertambah. Antara 2005-April 2008, sedikitnya 767 jiwa melayang, sementara 7.830 orang lainnya menderita luka berat dan ringan akibat kecelakaan lalu lintas di berbagai ruas jalan di DIY. Kerugian material akibat kecelakaan dalam periode tersebut juga cukup besar jumlahnya, mencapai sedikitnya Rp 5 miliar.

Bayangkan bila Saya hidup 20 tahun lagi. Ketika itu anak-anak Saya adalah pemuda yang menjadi harapan terbesar Saya. Pemuda merupakan kelompok yang paling rentan mengalami risiko kematian, luka parah dan cacat seumur hidup akibat kecelakaan. Bayangkan pula bila sama sekali tidak ada kecelakaan tahun lalu, maka Kita memiliki uang setidaknya 5 miliar yang dapat dipakai untuk memperbaiki gedung-gedung sekolah yang sudah tidak layak, membantu biaya pendidikan siswa yang tidak mampu, menambah koleksi buku bacaan di perpustakaan-perpustakaan, apalagi? Cukup banyak uang 5 miliar untuk dimanfaatkan, kecuali bagi koruptor...

Saatnya Kita berbenah, saatnya Kita berubah. Tidak perlu menjadi seorang profesor untuk memahami apa yang sepatutnya diperlukan untuk mengurangi jumlah kecelakaan di jalan raya. Setidaknya (1) perhatikan keadaan kendaraan – rem, lampu depan, lampu rem, lampu sinyal belok; (2) kondisi jalan lebih aman untuk semua pengendara – ada pemisah antara jalur cepat dan jalur lambat, jalan tidak berlubang; (3) perilaku pengendara - hindari kecepatan yang berlebihan, tidak mengkonsumsi minuman keras sebelum berkendara, patuhi rambu lalu lintas; (4) gunakan helm atau sabuk pengaman.

Tidak kalah penting bahwa pemerintah pun harus segera turun tangan. Beberapa saat lagi Kita akan segera melaksanakan pemilu. Kualitas pemerintah yang akan datang akan sangat ditentukan oleh kualitas pemilu ini. Kita sudah terbiasa mendengar partai politik mengkampanyekan akan mengusahakan sembako murah atau meningkatkan anggaran pendidikan dan kesehatan. Akan tetapi bagaimana kebijakan mereka untuk mengurangi kecelakaan di jalan raya, rasanya belum pernah terdengar. Padahal bila tak ada kecelakaan di jalan raya, maka Kita tentunya tidak pelu memikul kerugian yang sedemikian besar. Dengan demikian, akan ada lebih banyak uang agar sembako lebih murah atau anggaran pendidikan dan kesehatan yang lebih tinggi. Dan tentunya tidak perlu ada lagi orang yang tewas atau terluka akibat kecelakaan di jalan raya....

04 February 2009

Anarki Masa di DPRD Sumut - Inikah Hasil Demokrasi??

Entah apakah ini pantas dilakukan oleh manusia yang menjunjung tinggi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab? Entah juga apakah ini hasil dari kebebasan mengutarakan pendapat ataukah bentuk lain dari pemaksaan pendapat? Yang pasti kembali satu nyawa melayang.

Mengerikan! Hanya itu yang Saya rasakan ketika pertama melihat tayangan demo di DPRD Sumut hingga berbuntut kematian Sang Ketua DPRD. Serasa suasana tertarik ketika menonton film pemberontakan G30S/PKI.

Sumber: http://img156.imageshack.us/my.php?image=massabrutalow4.jpg

Inilah musibah demokrasi! Bagi Anda para caleg, bersiap-siaplah! bisa jadi kejadian yang dialami Pak Azis juga akan Anda alami di masa yang akan datang. Waspadalah... Waspadalah!

17 January 2009

WE WILL NOT GO DOWN - Song for Gaza




WE WILL NOT GO DOWN
Song for Gaza
(Composed by Michael Heart)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they're dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who's wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

09 January 2009

Alasan Mengapa Kita Harus Mendukung Palestina

Berkas yang hampir terlewatkan di inbox email. Semoga bisa memberikan pemahaman yang lebih baik, ketimbang hasil debat PKS vs PPP tentang Demo untuk Palestina di TVone semalam...

---------- Forwarded message ----------
From: M Alfatih
Date: 2009/1/9
Subject: ** Alasan Mengapa Kita Harus Mendukung Palestina
To: auliyaparents@yahoogroups.com

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Berikut ini forward posting mengenai kaitan sejarah kemerdekaan Indonesia dengan bangsa Palestina, yang dikutip dari buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" karangan Bapak H. M. Zein Hassan Lc, Lt (alm.)

Kemerdekaan suatu bangsa, secara hukum internasional akan sah jika ada wilayah, pemerintah, dan rakyatnya. Serta adanya pengakuan dari negara lain. Syarat terakhir ini telah dipenuhi oleh Mesir pada tahun 1949, yang didahului oleh dukungan penuh oleh Mufti Palestina saat itu. Sejak itu, PBB tak bisa mengelak, dan akhirnya melalui perundingan yang dipaksa oleh PBB, Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

Salam,

M. Alfatih Z. Hassan.

*-------Original Message-------*

*From: Ruskim Subandi
*Date: 1/8/2009 4:41:32 PM
*Subject: FW: Sisi Lain Fakta Sejarah Kemerdekaan Indonesia...

Kita berhutang banyak dengan Palestina....
Sisi lain fakta sejarah kemerdekaan Indonesia namun sayang masih ada saja komentar anak bangsa ini yg mengatakan "ngapain sih mendukung Palestina" dan komentar menarik dari majalah TIME "kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa."

Ngapain sih mendukung Palestina?
Kalau ada ribut-ribut di negara- negara Arab, misalnya di Mesir, Palestina atau Suriah, kita sering bertanya apa signifikansi dukungan terhadap Negara tersebut. Misalnya baru-baru ini ketika Palestina diserang. Ngapain sih mendukung Palestina?

Pertanyaan tersebut di atas sering kita dengar, terutama karena kita bukan orang Palestina, bukan bangsa Arab, rakyat sendiri sedang susah, dan juga karena entah mendukung atau enggak, sepertinya tidak berpengaruh pada kegiatan kita sehari-hari.

Padahal, untuk yang belum mengetahui... kita sebagai orang Indonesia malah berhutang dukungan untuk Palestina.

Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI *de facto* pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan Lc.

Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan), dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.


M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada halaman 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:

"pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan 'ucapan selamat' mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan 'pengakuan Jepang' atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian Al-Ahram yang terkenal telitinya juga menyiarkan."

Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi "Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia" dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat di negeri ini.

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: "Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ...."

Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara *Mesir* 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Timur Tengah lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan dan pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

*Dukungan Mengalir Setelah Itu*
Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk *'Panitia Pembela Indonesia'*. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi-demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi *serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya* , demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dalam pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca *Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947*, pada 9 Agustus. Saat kapal "Volendam" milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said. Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih –tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air dan makanan untuk kapal "Volendam" milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk "Volendam" bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

Wartawan 'Al-Balagh' pada 10/8/47 melaporkan:
"Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. Mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain."

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada salib menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. "Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa."

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita.

Statement Tokoh dalam buku ini
*Dr. Moh. Hatta*
"Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau."

*A.H. Nasution*
"Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-negara Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-diplomat Indonesia di luar negeri. *Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen,* memelopori pengakuan de jure RI bersama *Afghanistan* dan *Iran-Turki* mendukung RI. Fakta-fakta ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-diplomat revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-negara Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD '45 *"ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial"*.

Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur (HR. Bukhari).

07 January 2009

...Ketika Anak-anak Tak Bisa Lagi Menangis...

Hampir sepertiga dari 689 warga Palestina yang tewas dalam ofensif Israel atas Gaza adalah anak-anak. Sebanyak 220 anak telah tewas sejak ofensif bersandi "Operation Cast Lead" dilancarkan pada 27 Desember (Republika, Kamis, 08 Januari 2009).


When The Children Cry
-- White Lion --

little child
dry your crying eyes
how can I explain
the fear you feel inside
cause you were born
into this evil world
where man is killing man
but no one knows just why
what have we become
just look what we have done
all that we destroyed
you must build again

when the children cry
let them know we tried
cause when the children sing
then the new world begins

little child
you must show the way
to a better day
for all the young
cause you were born
for all the world to see
that we all can live
with love and peace
no more presidents
and all the wars will end
one united world
under god

when the children cry
let them know we tried
cause when the children sing
then the new world begins

what "have we" become
just look what we have done
all that we destroyed
you must build again
no more presidents
and all the wars will end
one united world
under god

when the children cry
let them know we tried
when the children fight
let them know it ain't right
when the children pray
let them know the way
cause when the children sing
then the new world begins

31 December 2008

Catatan si Pemuda nDeso di Tahun 2008

Alhamdulillah....
Kita segera berada di tahun 2009. Bila diberikan umur yang lebih panjang, semoga Pemuda nDeso bisa kembali menggoreskan catatan-catatannya di tahun 2009.

Sekilas Perjalanan Catatan si Pemuda nDeso di Tahun 2008
Satu tahun sudah Pemuda nDeso bergentayangan di dunia maya. Sejak Januari 2008, Pemuda nDeso telah menorehkan 42 kisah. Ada kisah tentang analisa data, tentang Bangka, tentang bencana, tentang Bibus, tentang Epi Info, tentang free download, tentang internet, tentang kota sehat, tentang pekerjaan, tentang pembangunan berkelanjutan, tentang penelitian, tentang refleksi, tentang teladan, tentang tips dan trik, serta tentang tutorial. Semoga bisa memberikan manfaat bagi segenap pembaca Catatan si Pemuda nDeso.

Sejak November hingga Desember terlihat kecenderungan peningkatan pengunjung Catatan si Pemuda nDeso. Mudah-mudahan keadaan ini bisa lebih baik, sekaligus memacu Pemuda nDeso untuk lebih memperbaiki kualitas kisah yang disampaikan dalam catatannya.

Grafik Pengunjung Catatan si Pemuda nDeso

Semoga di tahun yang akan datang, walaupun masih dalam aroma krisis global, Kita bisa tetap bertahan dan berprestasi dengan lebih baik. Merdeka!

27 January 2008

Menjaga Efektivitas (Refleksi Diri dari Tulisan Ilma)

Membaca tulisan Ilma tentang Menjaga Efektivitas, pas sekali menyentuh keseharian Saya. Anda juga tentunya. Rasanya memang lebih mudah untuk memulai segala sesuatu, apalagi ketika Kita sedang memiliki semangat dan minat yang besar. Namun beriring waktu, tidak jarang semangat semakin kendur dan minat semakin surut. Di sini efektifitas terluruh hingga akhirnya hilang, bila ia tak dijaga.
Dalam pengaktualisasian diri, konsentrasi saya terbagi menjadi beberapa bagian. Kehidupan profesional, organisasi, dan hobby (Ilma).
Aktualisasi diri, menurut Saya, adalah fitrah setiap manusia. Pada praktiknya, bagaimana cara untuk mengaktualisasikan diri. Jalur apa yang dipilih, mengapa ingin berada pada jalur itu dan apa konsekuensinya. Seringkali sukar untuk menentukan ke mana akan menuju, apalagi bila melihat dunia yang berubah cepat. Kadangkala semua hal terlihat menarik, kadangkala semua hal terlihat menakutkan. Dari mana pun sisi pandang yang diambil, pilihan harus tetap dibulatkan. Dari sini lah mulai beranjak, satu per satu langkah, menghadapi jalan lurus mulus atau jalan berliku berbatu. Sampai sekarang, jujur dikatakan, bahwa Saya juga terkadang gamang memilih ke arah mana harus menuju. Banyak harapan, penuh bisikan, sarat godaan; Meski demikian Saya harus tetap memilih dan bersiap menghadapi konsekuensinya.

Ketika tekad sudah ditetapkan, saatnya untuk beraksi. Mengumpulkan segenap informasi, membuka cakrawala dengan bebas. Mulai lah berkonsentrasi untuk tetap fokus. Ingat fokus, bukan berpikiran sempit. Pernah Saya salah kaprah memaknai maksud dari fokus. Sebelumnya Saya beranggapan bahwa fokus ialah mencurahkan segenap kemampuan pada suatu titik. Ternyata fokus lebih dari itu. Untuk fokus Kita tidak hanya harus terpusat pada satu titik, namun harus pula melihat seluruh gambaran besar agar Kita tahu di mana fokus Kita. Konsentrasi adalah kunci dari fokus. Dengan konsentrasi Kita tetap terjaga untuk selalu sadar arah yang dituju.
Saya bukan orang yang mudah berkonsentrasi (Ilma).
Rasanya memang seperti itu lah kebanyakan dari kondisi Saya. Barangkali ini juga dialami banyak orang, tidak hanya Ilma dan Saya. Beberapa tips dari Ilma, menurut Saya memang merupakan solusi praktis untuk menuntun Kita agar tetap sadar berkonsentrasi, sehingga pada akhirnya dapat menjaga efektivitas. Inilah beberapa hal yang patut menjadi perhatian agar efektivitas tetap terjaga (Ilma).
  • Lihatlah apa yang bisa dilakukan dan tepati jadwal
  • Perhatikan kesehatan dan kebugaran
  • Jangan bengong dan jangan lelet
  • Selesaikan apa yang kamu mulai
  • Pertahankan pikiran dan sikap positif
  • Banyak-banyak bergaul dan menjalin networking
Terimakasih untuk Ilma atas tulisannya yang menggugah...

22 January 2008

Kapan nikahnya?

Temu Alumni ISBA kmaren meninggalkan pertanyaan bagi Saya. Saat itu Pak Kamsul bertanya, "Sudah menikah belum?". Karena memang belum menikah, ya Saya jawab belum. "Sudah lulus kok belum menikah? Mau menikah kapan?"

Kapan ya Saya menikah? Kalo maunya sih sudah dari dulu2. Waktu itu, rncananya Saya akan menikah Februari 2005, setelah wisuda. Tapi karena ndaftar wisudanya telat, maka Saya tidak bisa wisuda pada waktu tersebut. Alhasil, rencana menikah pun gagal. Saya malah, waktu itu, bersama Hendri berangkat ke Aceh. Dia pulang kembali ke Aceh karena meneruskan usaha orang tuanya, Saya sendiri nebeng kerja sama Dia (Saya kembali lagi ke Jogja bulan April 2005). Hampir tiga tahun setelah masa itu (ya sekarang) Saya masih Single alias Jomblo. Dibilang tidak laku memang ada benarnya. Sebagai pria normal, sebagian besar hidup Saya saat ini dihabiskan dengan banyak pria. Pindah dari satu pria ke pria lain. HOMO kalee...

Mengapa Saya belum menikah sampai sekarang? Jawabannya kira-kira seperti ini.
  1. Tidak ada wanita yang berminat
  2. Tidak menjanjikan masa depan yang baik
  3. Tidak romantis, perhatian dan penuh kasih sayang
  4. Silakan tambah sendiri...
Lalu dengan kondisi demikian berarti kapan Saya akan menikah. Jawabannya yang pasti harus merupakan solusi dari alasan-alasan di atas.
  1. Mencari wanita yang berminat menikahi Saya. Bisa dengan mengiklankan diri, mengikuti biro jodoh atau minta dicarikan sama teman. Selain itu harus mulai memperbaiki penampilan. Baju lebih rapi, badan lebih atletis dan wajah lebih bersih terawat.
  2. Harus bekerja lebih keras, lebih pintar dan lebih cepat. Stidaknya kondisi perekonomian harus lebih baik dibandingkan dengan keadaan saat ini. Memiliki karir yang menjanjikan, serta belajar membuat janji-janji yang menjanjikan (Maksute' piye?)
  3. Mulai mengganti kebiasaan menonton film aksi dengan film2 romantis dan drama. Diharapkan dengan jalan ini dapat menumbuhkan sedikit demi sedikit sifat romantis, perhatian dan penuh kasih sayang. Sepertinya perlu ditambah dengan membaca buku Mars and Venus atau Chicken Soup.
  4. Berdoa...
Semoga dengan mengikuti solusi-solusi di atas Saya bisa segera menikah, sehingga ketika bertemu lagi dengan Pak Kamsul dan ditanyakan "Kapan nikahnya?". Saya dengan lantang akan menjawab, "May.... Maybe tahun ini, Maybe tahun depan...."

15 January 2008

Stengah Bulan Pertama di 2008

Gara-gara ngobrol dengan pasukan SS di Kantin Medika tadi siang, terpikirkan juga... Apa yang sudah dilakukan slama setengah bulan pertama 2008 ini. Tiba-tiba wis tanggal 15 je, sudah ngapain aja?

Awal Januari, gak krasa banget. Waktu itu lagi-sibuk2nya bareng si Chusnan persiapan buat ke Kutai. Mulai persiapan jasmani dan rohani, sampe persiapan materi dan non materi. Soale ini emang perjalanan pertama Qt buat garap proyek, sendirian... Ya, Qt ke Kutai bukan buat bertahun baru Jenderal! tapi buat ngebangun LAN di Dinkes Kutai + presentasi Website Dinkes Kutai yang sudah digarap sebelumnya (ini kegiatan dari tgl 2-5 Januari 2008).

Pulang dari Kutai, nyampe Djogja Sabtu malem. Nyampe kost langsung tidur, tiba-tiba aja dah Minggu pagi.

Hari Minggu, ceritanya jadi anak baik. Pertama-tama beresin kamar, trus blajar! Ya terpaksa blajar, habis besoknya ujian Fisiografi. Ngulang, Semester I kmaren dapet C. Senin, ya ujian lha... Pas nyampe Kampus dah sepi. Kirain gak jadi ujian, eh ternyata malah udah mulai. Selasa, lupa dah ngapain aja. Trus Rabu, harusnya ujian Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan, tapi kenyataannya malah ke X-urang. Bukan jalan-jalan je, persiapan buat Workshop DTPS mahasiswa KMPK. Setting dikit, ini... itu.... Ya beres dan pulang.

Rabu-Jumat, kebanyakan di X-urang, biasalah SS. Sabtu pagi ke Gramedika, cek software Apotik, ternyata gak masalah. Nunggu Hervin gak dateng-dateng, trus pulang aja. Ke kantor bentar nganter kunci loker untuk SS Imbar. Sampe kost, tidur.... Trus Minggu lagi, biasa hari mencuci nasional (plus istirohat). Senin, ngantor lagi dan Selasa, hari ini. Wis ceritane!!